Xubuntu Bionic Beaver 18.04 LTS, Sepatah Ulasan

Memilih distro yang baik selalu menjadi perkara yang untung-untungan bagi saya.

Kadang ada distro yang bagus, tapi tidak cocok dengan hardware saya... Kriteria pemilihan distro bagi saya, yang pertama adalah dukungan hardware, lalu performa dan penampilan. Setelah mencoba menggunakan beberapa distro XFCE terbaru, saya akhirnya memilih Xubuntu 18.04 LTS. Let's check this out.


Hardware

  • ASUS E202S netbook low-end
  • 11.6"
  • RAM 2GB
  • GPU Intel HD Graphics 400
  • CPU Intel Celeron N3060

Live Session

Xubuntu Bionic Beaver bekerja baik selama live session.
  • Koneksi wifi : ✔, stabil
  • Suspend: ✔, suspend tidak bekerja otomatis ketika laptop ditutup :(
  • Shutdown & Restart: ✔
  • Tampilan: nais banget
Xubuntu 18.04 Live Session

Instalasi

Instalasi membutuhkan waktu kurang lebih 20 menit. Instaler Xubuntu terasa modern dan terpoles baik (Sayang saya kehilangan screenshotnya). Xubuntu menawarkan untuk mengunduh codec untuk menjalankan mp3, flash lalala...

Pada instalasi kali ini saya menginstal pada sistem yang sebelumnya sudah terinstal windows dan linux dual boot. Bionic B. akan menimpa instalasi linux sebelumnya, jadi saya hanya tinggal mengatur penggunaan partisinya saat instalasi.

Kompatibilitas dengan Hardware

Bionic Beaver bukan seri xubuntu yang paling perfect yang pernah saya coba, tapi dia memiliki kompatibilitas paling baik diantara distro XFCE yang saya coba di hari ini. Tombol Fn bekerja baik, wifi stabil, dan suspend berjalan lancar.

Satu-satunya yang miss adalah fitur suspend otomatis ketika menutup laptop tidak berjalan. Ini adalah bug Ubuntu yang sudah muncul sejak 16.04 dan belum berhasil diperbaiki tampaknya... Beberapa orang sudah membuat tutorial workaround dari problem ini, tapi belum saya coba.

Hasil ini jauh lebih baik dari Xubuntu 16.04 yang penuh problem di laptop yang sama.

edit:
Suspend ketika menutup laptop ternyata berjalan :P  Hanya saja tidak aktif secara default di pengaturan

Namun terdapat bug pada keyboard yaitu tombol arrow kanan terjadi menjadi tidak responsif. Bug ini juga muncul pada Xubuntu 16.04. Frekuensi ketidakresponsifan menjadi semakin sering seiring lama penggunaan Xxubuntu.

Anehnya bug ini berangsur-angsur menghilang setelah menggunakan windows.

Performa
Dalam keadaan idle, xubuntu memakai CPU 3-5% dan RAM 400-500 MB. Angka yang cukup besar dibandingkan Xubuntu 14.04 dulu...

Tampilan

Saya bisa katakan tampilan xubuntu dibanding distro XFCE lainnya bagai langit dan bumi. Tidak ada yang mengalahkan xubuntu dari segi keindahan, kerapian dan polesannya. Linux mint cukup oke sih... tapi memberi kesan agak jadul pada awalnya.

Xubuntu Bionic Beaver, dengan Plank di bag. bawah
Pilihan wallpaper yang amajing

Kompetisi

Selain mengecek Xubuntu 18.04, sebelumnya saya menginstall linux mint sylvia 18.3 dan MX Linux 17.1

MX Linux memiliki performa yang terbaik dibanding Mint dan Xubuntu, it's blazing fast. MX linux ini berbasis debian dan masih tergolong disro yang baru berkembang. Sayangnya saya bertemu mendapatkan problem dengan wifi yang sulit tersambung. Ugh, masalah wifi adalah masalah yang paling merepotkan karena tanpa wifi, mencari solusi menjadi dua kali lebih sulit. Belum lagi masalah-masalah lain yang muncul terkait suspend dan tombol fn. Dari sisi tampilan, MX linux masih tertinggal jauh dari Linux Mint dan Xubuntu.

Linux Mint Sylvia is rock! Saya hampir saja jatuh hati pada Sylvia, kalau saja koneksi wifinya wifinya stabil... Sylvia juga menghadirkan tampilan yang menarik dan kaya pilihan.

Kesimpulan

Untuk Anda yang mencari linux yang ringan, cakep dan cutomizable, saya menyarankan menggunakan Xubuntu 18.04 LTS. Seri Xubuntu kali ini adalah seri yang solid dan memuaskan.
Terima Kasih.

Comments

  1. Saya pengguna xubuntu, apakah booting xubuntu mu terasa lambat? Masaalah nya xubuntu saya lambat saat ingin booting, bisa berikan saya solusi?

    ReplyDelete

Post a Comment